FX - Lifestyle X'Nter

Chat After Lunch @ f3 Atrium

Diskusi hangat bersama para ahli di bidangnya.

Ketidak seriusan pemerintah, dalam hal ini Bank Indonesia untuk mengembangkan konsep perbankan Syariah dinilai menjadi kendala utama dari lambatnya pertumbuhan ekonomi syariah di Tanah Air. Hal ini terungkap dalam obrolan santai dan hangat seputar permasalahan ekonomi bertajuk Chat After Lunch di f3 Atrium, fX lifestyle X'nter, Senin (27/4). Tema yang diangkat siang itu adalah “IMPLIKASI FATWA BUNGA HARAM TERHADAP PENINGKATAN PANGSA BANK SYARIAH”  

Beberapa waktu yang lalu Muhamadiyah mengeluarkan fatwa haram untuk bunga bank. Hal ini jelas memancing kontroversi dalam masyarakat. Sebagian menganggap ekonomi syariah belum mumpuni untuk menjadi alternative pilihan berinvestasi, namun sebagian juga menganggap inilah kebangkitan ekonomi berbasis “bagi hasil” yang bebas dari unsur-unsur pemerasan, non halal dan lintah darat. Akibatnya, fatwa bunga bank haram tersebut justru menjadi polemik dan bola panas di tengah masyarakat. Ditambah adem ayemnya pemerintah menyikapi hal ini maka ekonomi syariah di Indonesia semakin jalan di tempat.  

Dalam diskusi hasil kerja bersama fX lifestyle X’nter, Delta FM, Koran Jakarta dan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) ini menyoroti masih kurangnya peran serta masyarakat di sektor syariah. Padahal sebagai negara dengan komunitas muslim mayoritas di dunia, ekonomi syariah sejatinya bisa menjadi tuan di negeri sendiri. “Orang masih banyak yang menganggap syariah sebagai ekonomi Islam. Padahal menurut saya, syariah itu milik semua orang beriman. Di dalam Alkitab dan Alquran jelas mengutip ayat yang melarang umat untuk menerima bunga atau riba. Namun pada prakteknya, masyarakat Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar justru banyak yang belum tertarik dengan syariah,” ungkap Riawan Amin, Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia.

Selain itu, sektor sumber daya manusia (SDM) juga menjadi titik lemah lambatnya pertumbuhan syariah di Indonesia. “Kalau dibilang SDM syariah itu karbitan ya, bisa benar dan bisa juga salah. SDM kita memang belum secara menyeluruh menguasai konsep-konsep syariah dan menerapkannya. Tapi kita sudah beraa di jalur yang benar dengan mendidik tenaga-tenaga itu agar memahami dan melakukan konsep syariah,” tambah Mustafa Edwin Nasution, praktisi perbankan syariah dari FEUI.    

Kedepannya, masyarakat dihimbau untuk mencari tahu dan mempelajari dengan baik apa yang dimaksud dengan ekonomi syariah. “Semakin paham dengan konsepnya maka kita akan mengerti dan diharap melakukan konsep syariah,” ujar Riyanto, Dirut Bank Syariah Bukopin.

print
27 Apr 2010 - 27 Apr 2010